Siapa yang tak mau mempunyai keluarga yang harmoni, tentram, dan tentunya damai. Tentu saja semua orang di dunia ini mendambakan memiliki keluarga seperti yang disebutkan tadi. Jelas saja, di dalam keluarga yang harmoni pasti kehidupan anggotanya pun akan jauh dari yang namanya konflik rumah tangga. Semuanya akan terasa nyaman apalagi ditambah dengan interaksi yang baik diantara anggota keluarga pasti semua masalah dapat diselesaikan tanpa harus disertai konflik.
Coba kita bandingkan dengan sebuah keluarga yang tidak memiliki interaksi yang begitu baik antara anggotanya, pastilah mudah sekali timbul konflik dalam rumah tangga tersebut. Hal ini tentu saja mengganggu keharmonisan hubungan diantara anggota keluarga. Sebagai contoh, ketidakharmonisan antara ayah dan ibu sering kali menimbulkan konflik yang berkepanjangan, bahkan bisa berujung kepada perceraian. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan dan tentu saja mengganggu kondisi psikologis anak-anak mereka. Tak jarang anak-anak yang orang tuanya sering terlibat konflik dan berujung ke perceraian terganggu secara psikis. Mereka mencari pelampiasan dari situasi tersebut malah cenderung ke arah yang negatif. Anak broken home kebanyakan melampiaskannya ke narkoba, miras, dan bahkan ada pula yang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat.
Kondisi seperti di atas pernah aku alami. Getirnya hidup sebagai anak yang boleh dibilang tak memiliki keluarga yang harmonis selalu menghiasi keseharianku. Selalu ada konflik yang terjadi di dalam keluargaku, pertengkaran antara ayah dan ibu sering sekali terjadi. Hal ini jelas saja mempengaruhi kondisi psikisku apalagi saat itu usiaku mulai memasuki masa remaja yang tengah mencari jati diri. Bagaimana aku bisa membentuk karakter diriku menjadi baik jika situasi di keluargaku tengah goncang? Pernah terpikir untuk melarikan diri dari rumah menjauhi situasi konflik yang terjadi antara ibu dan ayahku. Pernah pula terpikir untuk hidup sendiri supaya tak mendengar lagi keributan di rumah. Konflik yang terjadi di keluargaku sungguh sangat mengganggu semua yang ada dalam diriku. Sulit untukku menentukkan siapa yang benar dan siapa yang salah, hal ini menjadi dilema buatku dan adik-adikku.
Hal tersebut membuat aku malu terhadap teman, tetangga, dan masyarakat di sekitarku. Pernah suatu hari mereka bertengkar hebat hingga tetangga pun mengetahuinya, hati kecilku menangis pilu, aku malu memiliki orang tua yang sering bertengkar. Aku jadi pemurung sejak saat itu dan tak hampir tak ada ceria dalam keseharianku. Aku berpikir apakah aku harus seperti ini?
Di tengah suasana yang begitu genting, muncullah satu peristiwa lagi yang sangat menggoncang batinku. Kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai saat itu. Satu hal yang sangat sulit aku percaya dan ku terima. Tak pernah ku bayangkan apabila benar terjadi hal itu, mungkin aku tak akan memiliki keluarga yang utuh lagi, tak seperti orang lain. Ku berpikir mungkin tak akan ada kebahagiaan lagi yang aku rasakan, karena bagiku kebahagiaan ialah memiliki keluarga yang utuh dan tak ada konflik.
Sebelum hal itu terjadi dan sebelum palu diketuk, aku berusaha untuk mempersatukan mereka kembali. Awalnya aku pikir hal ini pasti sulit untuk dijalankan, karena mereka sudah keukeuh pada egonya masing-masing. Harus bagaimana lagi, aku rasa sebagai anak akulah yang akan bisa menyatukan mereka kembali seperti dahulu lagi. Tiap hari ku ajak mereka berbicara, mempertimbangkan keputusan yang mereka ambil, dan menjelaskan dampak yang akan diterima oleh kami anak-anaknya. Ku teteskan air mata harapan di depan wajah mereka, karena ku tak ingin kehilangan keluargaku yang sangat aku cintai. Tengah malam aku bersimpuh di hadapan-Nya dengan bercucuran air mata memohon agar Allah mendengar dan mengabulkan doaku. Aku coba terus dan terus sampai mereka mau kembali damai dan membatalkan keputusan yang mereka ambil.
Doa dan usahaku akhirnya berbuah manis, meskipun jalan menyatukan mereka kembali sangatlah sulit. Allah memberiku sakit yang sangat berat dan hampir merenggut nyawaku. Dari situlah kedua orang tuaku sadar, dan akhirnya membatalkan keputusan yang mereka ambil, sungguh Allah Maha Besar, Ia mendengar semua doa yang aku panjatkan pada-Nya. Mungkin inilah keajaiban yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang selalu yakin akan usahanya untuk mempersatukan keluarganya. Sungguh sebuah mukjizat yang tidak bisa dipercayai. Cucuran air mata dan semua yang aku lakukan demi keutuhan keluargaku akhirnya tak sia-sia.
Satu pelajaran yang dapat dipetik olehku ialah keyakinan dalam berusaha pasti akan berbuah manis apalagi diiringi dengan doa. Jadi buat kalian yang broken home janganlah putus asa dan melampiaskan semuanya ke hal-hal yang negatif, jika kalian sangat mencintai kedua orang tua kalian dan ingin mempersatukannya kembali maka tetaplah berusaha jangan pernah berpikir untuk menyerah pada keadaan begitu saja. Berusaha, berdoa, dan yakinlah bahwa usaha yang kalian lakukan dengan sungguh-sungguh akan berbuah manis.
Selasa, 22 Desember 2009
Pahit dan Getir yang Berbuah Manis
Diposting oleh lovelylugiz di 02.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar